Minggu, 02 Februari 2014

CERPEN "Teman Baik"














 

*Kelas 1 SMP

Ada anak baru di sekolah. Ibu guru menyuruhnya duduk di sebelahku. Dia cantik, wangi, semua dari dia terlihat rapi. Beberapa hari kemudian dia datang dengan air mata di pipinya. Dia bilang buku catatannya hilang. Aku ambil buku itu dari tasku yang memang kutemukan ditinggalkannya kemarin. Tangisnya menjadi, sambil memelukku dia bilang "Makasih, ya. Kamu teman yang baik."

Aku mau bilang waktu itu, aku ingin jadi lebih dari sekedar temannya. Tapi aku terlalu malu, gak tau kenapa.

*Kelas 1 SMA

Dia nangis di telepon. Cowoknya memutuskannya tiba-tiba. Dia bilang butuh temen curhat. Aku datang, kami duduk di kursi teras rumahnya. Dia cerita sambil nangis, aku hanya diam mendengarkannya karena memang itu tugasku sebagai 'temen curhat'. Siomay, bakso, dan banyak jajanan lainnya kami habiskan sore itu. Aku bilang gak baik dia terus-terusan sedih - kalo lagi sedih nafsu makannya mengerikan. Dia tertawa masih dengan mata sembab dan bilang, "Makasih, ya. Kamu teman yang baik."

Aku mau bilang waktu itu, aku ingin jadi lebih dari sekedar temannya. Tapi aku terlalu malu, gak tau kenapa.

*Mahasiswa baru

Seperti ratusan teman lainnya, kami ngelanjutin kuliah di Jogja. Jarak kota kami dan Jogja hanya 100 km jauhnya. Hujan, jam 11 malem di telpon dia bilang masih di jalan. Sampai selarut itu dia dan temannya belum dapet kamar kos. Gak punya saudara, cowoknya juga mendadak gak bisa dihubungi. Aku jemput mereka. Kusuruh mereka tidur di kamarku malam itu, aku tidur di karpet ruang TV. Kujelaskan ke teman satu kontrakan jangan ada yang punya pikiran macam-macam, atau berhadapan denganku. Sebelum menutup pintu kamar dengan muka kecapekan dia bilang "Makasih, ya. Kamu teman yang baik.."

Aku mau bilang waktu itu, aku ingin jadi lebih dari sekedar temannya. Tapi aku terlalu malu, gak tau kenapa.

*Undangan

Di pintu masuk gedung itu kudengar alunan elektone. Semua orang tampak bahagia. Suara sendok beradu dengan piring terdengar dimana-mana. Ini resepsi pernikahannya. Aku datang jauh-jauh dari Jakarta, hanya untuk menahan air mata ini jatuh selama mungkin, setidaknya di depannya. Dari jauh dia melihatku, dia mendekat dan bilang "Waa..kamu dateng juga. Makasih, ya. Kamu memang teman terbaik.."

Aku mau bilang waktu itu, aku selalu ingin jadi lebih dari sekedar temannya. Tapi aku terlalu malu, gak tau kenapa.

*Beberapa tahun kemudian

Aku masuk ruangan itu. Ada beberapa orang disana mengaji di sekeliling jenazah yang tertutup sarung batik. Dia disana. Gadis yang dulu menganggapku sebagai teman terbaiknya itu. Terbujur kaku. Sang khalik memanggilnya hari itu. Waktu mengaji, kudengar ada yang memanggilku dengan lirih di luar. Itu suaminya. Dia memelukku dengan eratnya lalu memberiku sebuah buku. Aku ingat buku itu. Buku catatan almarhumah sejak kelas 1 SMP.

Aku mulai merasa buku ini penting untuk kubaca karena mendadak suaminya bilang maaf. Aku belum tahu maksudnya. Segera kucari ruangan untuk membacanya. Aku berhenti di kalimat ini:

"Dia cowok yang baik, aku beruntung bisa duduk sebangku dengannya. Aku selalu memandanginya tanpa sepengetahuannya. Aku mau bilang waktu itu, aku ingin jadi lebih dari sekedar temannya. Tapi aku terlalu malu untuk ngucapin lebih dulu, gak tau kenapa."

Aku mulai menangis sejadi-jadinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

10 Tahun Menjadi BADMINTON LOVERS

Holla teman2 Badminton Lovers sekalian sebangsa dan setanah air hari ini adalah tahun ke 10 gue suka olahraga tepok bulu.. dan aku mau...